Selasa, 13 Desember 2016

KASUS PERSIDANGAN AHOK DI INDONESIA


Terdakwa perkara penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama terlihat menangis saat membacakan pembelaannya di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Selasa, 13 Desember 2016.

Ahok begitu ia disapa tidak terima didakwa telah menistakan agama Islam, sebab sejak kecil dia selalu hidup dengan agama mayoritas di Indonesia ini.

Bahkan, Ahok mengaku memiliki orangtua angkat yang Islamnya sangat taat. Atas dasar itu pula calon Gubernur DKI Jakarta pertahana itu langsung mengajukan pembelaan pasca jaksa penuntut umum (JPU) mendakwa Ahok dengan pasal 156a atau 156 KUHP dengan ancaman penjara paling lama lima tahun.

Sebelum menjalani persidangan, Ahok tampak menunggu di suatu ruangan ditemani oleh seorang wanita berkerudung merah muda dan menggunakan baju berwarna biru. Dari sebuah foto yang tersebar di kalangan media, Ahok tengah dipeluk oleh wanita itu, yang tak lain Nana Riwayatie.

Dia adalah kakak angkat Ahok yang beragama Islam, dan masih satu saudara kandung dengan Andi Analta. Andi merupakan anak tertua Baso Amir, ayah angkat Ahok.

Dalam foto itu juga terlihat raut wajah Ahok yang sedih dan meneteskan air mata dengan posisi tisu di atas meja tepat di hadapannya.

Tak hanya Ahok, Nana juga terlihat sedih sambil memeluk dan menundukkan kepalanya dan menyandarkannya di kepala Ahok. Ikatan batin tersebut membuat siapa pun yang melihatnya menjadi terharu.

Seperti diketahui, Ahok menjalani sidang perdananya hari ini. Selanjutnya sidang akan dilanjutkan pada 20 Desember 2016 mendatang dengan.



Bukan hanya di media televisi, sidang perdana ini juga menjadi sorotan di media sosial. Banyak netizen yang mengomentari mengenai sidang perdana Ahok ini.

Satu di antaranya komposer, Addie MS yang memposting wajah Ahok yang murung ketika dipeluk oleh seorang perempuan.

Addie menuliskan Ahok dipeluk oleh adik angkatnya, Nana guna memberikan dukungan moril kepada kakaknya sebelum menghadapi persidangan.

"Nana, adik angkat Ahok memberikan dukungan moril kepada kakaknya di persidangan. Ahok."

Senin, 12 Desember 2016

PROOF OF CRUELTY TO THE PEOPLE OF MYANMAR AND BUDDHISM ROHINGYA


Burma, the official name of the country is the Republic Union of Myanmar, one of ASEAN countries bordering China (East Sea), India and Bangladesh (Northwest, Laos and Thailand (the East), and the bay Bangghali / Bengal and the Indian Ocean (west south). the population of Burma is composed of many tribes and languages. the majority of them speak burmaniyyah and its called Burman, while the rest speak the language of all sorts. Among ethnic groups into the Burmese people are Arakan. they live in the southern part of the plateau Arakan Burma. Also there Kasyin ethnic. In a secluded place, among this ethnic Islam evolved since the days of the Prophet's companions -Shalallahu alaihi wa salam, 1400 years ago. Because Islam arrived there were brought by Malik ibn Waqqas t and the number of the Tabi'iin ,
Muslims continue to grow in Arakan until now number about 10 million, 75-90% of the population of Arakan and 20% of the total population of the Republic of Union of Myanmar.
But did you know that the Muslims in Arakan were slaughtered by their own country? Buddhists massacred by the blessing of the government? Muslims are considered newcomers in his homeland. Finally, they are treated like slaves, humiliated, robbed, expelled, burned homes, raped women muslimahnya, hunted and slaughtered like animals?
Did you know, since when these atrocities and crimes in progress?
This crime has been going on for two centuries. Yes, it lasted 228 years! Especially since 73 years ago.
Well, this time we submit some evidence of atrocities, torture, rape, arson, pebunuhan, expulsion and other crimes. Sorry if these videos, there are scenes of cruelty or the result of cruelty, these are all forced us to say that many people who do not believe in the word suffering Rohingya. Therefore, if your heart is weak then we suggest do not need to open these videos, it is enough for your explanation. Here are some of the evidence of cruelty and of the Myanmar Buddhists against Rohingya Muslims: